PELAYANAN PASTORAL BAGI KELUARGA

PELAYANAN PASTORAL BAGI KELUARGA

(Oleh: Nasib Sembiring Brahmana)

 I. Pendahuluan

Pelayanan pastoral adalah suatu jawaban terhadap kebutuhan setiap orang akan kehangatan, perhatian penuh, dukungan, dan pendampingan; kebutuhan yang memuncak pada waktu tekanan pribadi dan kekacauan sosial terjadi. Oleh karena itu, pelayanan pastoral pernikahan merupakan dimensi pelayanan gereja yang perlu dilakukan mengingat sepanjang rentang kehidupannya, umat tidak akan terlepas dari krisis-krisis atau persoalan-persoalan pernikahan, yang terduga maupun yang tidak terduga.

 II. Permasalahan Dalam Keluarga

Banyak hal yang dapat menimbulkan dan memicu persoalan atau masalah dalam pernikahan dan rumah tangga. Secara jelas dan detail M.S Hadisubrata memaparkan masalah-masalah yang timbul dalam pernikahan. Menurutnya masalah-masalah dalam pernikahan timbul karena pengaruh dari luar dan dari dalam hubungan pernikahan itu sendiri. Masalah yang timbul karena pengaruh dari luar misalnya adalah dampak modernisasi sebagai era peradaban teknologi modern yang membawa banyak perubahan bagi kehidupan keluarga. Salah satu perubahan karena modernisasi adalah pergeseran dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Pergeseran ini berdampak terhadap hubungan kekerabatan dalam keluarga. Misalnya, dalam masyarakat agraris keluarga dipahami sebagai keluarga besar (extended family) yang tinggal dalam satu rumah, mencari makan bersama dan dimakan bersama. Sedangkan dalam masyarakat industri keluarga hanya berarti ayah, ibu dan anak yang belum menikah (nuclear family), mereka harus bertanggung jawab atas keluarganya sendiri-sendiri. Perubahan pola hidup keluarga ini juga berdampak terhadap peranan masing-masing anggota keluarga (Hadi Subrata, 2008: 22-23). Jika perubahan ini tidak diantisipasi dan ditangani, maka akan menimbulkan masalah-masalah serius dalam rumah tangga.

          Sedangkan masalah-masalah yang timbul dari dalam pernikahan biasanya disebabkan oleh ketidakmampuan dalam penyelesaian kepribadian dan dalam mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan pernikahan itu sendiri.

Masalah-masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut (Hadi Subrata:2008, 30-35):

a.Harapan-harapan yang tidak realistis. Biasanya harapan-harapan ini muncul pada masa romantik, yakni selama pacaran dan tahun-tahun pertama pernikahan. Harapan-harapan yang tidak realistis ini misalnya, mereka merasa bahwa pernikahan mereka akan membuat mereka bahagia selamanya, hubungan seksual mereka akan selalu menyenangkan, mereka tidak akan pernah kesepian lagi, dengan perkawinan ini pasangan mereka akan berubah menjadi lebih baik, dan sebagainya.Ketika harapan-harapan ini tidak terpenuhi, maka dapat menimbulkan kekecewaan bagi kedua belah pihak.

b.Sumber konflik dalam pernikahan. Sumber konflik ini dapat mencakup dua hal. Pertama. Konflik yang bersumber pada kepribadian pasangan yang biasanya disebabkan ketidakmatangan kepribadian, adanya sifat-sifat kepribadian yang tidak cocok untuk menjalin hubungan pernikahan misalnya pemabuk, penjudi, egois, tertutup, keras kepala dan lain-lain, dan adanya kelainan mental misalnya homoseks atau lesbian, schizophrenia, sadisme dan lain-lain. Kedua, konflik yang bersumber pada hal-hal yang erat kaitannya dengan perkawinan, misalnya masalah keuangan, kehidupan dan tempramen sosial, pendidikan anak, agama, hubungan dengan mertua dan ipar, penyelewengan dalam hubungan seksual dan lain-lain.

c.Ketidakpuasan seksual; hal ini dapat disebabkan sebagai akibat dari kekecewaan terhadap pasangan yang dapat mengakibatkan mengendornya hubungan pribadi suami-isteri. Ketidakpuasan dalam hubungan seksual ini dapat juga disebabkan oleh anggapan yang salah (tabu) mengenai aktivitas seksual. Hambatan-hambatan yang menyebabkan ketidakpuasan seksual dapat meliputi hambatan psikologis, misalnya rasa takut dan cemas akan kehamilan, dan hambatan fisik, misalnya dalam bentuk kelainan seksual.

d.Masalah penyesuaian diri terhadap keluarga: latar belakang keluarga yang berbeda, cara bergaul, cita-citanya tentang rumah tangga, disiplin dalam rumah tangga, sikap mereka terhadap keluarga kedua belah pihak, tentang hubungan saudara ipar, dan lain-lain.

e.Masalah pengendalian keuangan: Hasil survai para ahli menyatakan lebih50 % perceraian disebabkan karena masalah keuangan dalam keluarga (Vivian: 2001, 118).

f.Masalah harapan-harapan: harapan-harapan mengenai soal keuangan, anak, cita-cita, masa depan, masalah seksual dan lain-lain dalam rumah(keluarga) yang dibina.

g.Kehidupan rohani (spritual life): Keanggotaan gereja, doa dan kebaktian bersama, peran serta atau partisipasi dalam gereja, dan lain-lain.

Untuk itulah pelayanan pastoral pernikahan diperlukan.

III. Pelayanan Pastoral Bagi Keluarga

Clinebell mengatakan penggembalaan adalah pelayanan pendeta dan anggota jemaat secara bersama. Pendeta (pelayan yang ditahbiskan) merupakan pelatih yang bertanggung jawab untuk memampukan anggota jemaat saling melayani di samping menjalankan pelayanannya sendiri yang unik dan berharga (Clinebell: 1984, 34.) Menurut John Patton dalam bukunya Pastoral Counseling: A Ministry of The Church, pelayanan pastoral adalah pelayanan gereja yang berdasar pada pelayanan Kristus (Potton, 1983: 16).

       Di dalam bukunya, “Apakah Penggembalaan Itu?”, Bons-Storm mengemuka- kan bahwa pelayanan pastoral merupakan pelayanan yang menekankan manusia sebagai individu (satu persatu) dan pribadi, serta relasi antara pelayan dan anggota-anggota jemaat yang setara, mencakup krisis-krisis dalam kehidupan, bertujuan kesembuhan dalam bentuk kekuatan dan pertumbuhan dalam diri orang-orang yang dilayani dengan menggunakan sumber-sumber teologis-alkitabiah dan psikologi.Bons-Storm mengemukakan bahwa penggembalaan menjadi jelas gambarannya kalau kita membaca Yoh 21:15-19 (menggembalakan anak domba maupun domba dewasa) (Bons-Storm: 1982, 20).  

           Jadi Pelayanan pastoral pernikahan adalah salah satu bentuk pembinaan yang bersifat penggembalan bagi pasangan suami-isteri dan anak dalam keluarga yang bertujuan untuk melengkapi tiap individu, memberikan cara untuk bagaimana mengatasi masalah dan pencegahannya.

         Menurut Clinebell ada empat faktor yang saling berkaitan erat antara pelayanan pastoral pernikahan dengan keharmonisan pernikahan yaitu (Clinebell: 1984, 318-320):

1.Pelayanan pastoral pernikahan memungkinkannya tetap berhubungan secara tetap dengan pasangan suami-isteri dan keluarga pada setiap tahap dan kejadian tertekan dalam kehidupan keluarga. Pendeta mempunyai kesempatan pendampingan dan konseling yang amat banyak dalam pelayanan kepada pasangan suami-isteri di dalam kunjungan keluarga, serta dalam keterlibatannya dalam kehidupan anggota keluarga masing-masing dari semua tahapan pernikahan dan juga baik dalam duka dan sukacita. Selanjutnya peran konseling ini memampukan dan memberikan pemahaman bagi pasangan suami-isteri untuk menguatkan pergaulan dan keterampilan komunikasi penyelesaian konflik kontemporer. Konseling semacam ini bisa bertumbuh dalam kesempatan konseling ketika pasangan didera krisis.

2.Pelayanan pastoral pernikahan dapat memberikan sumbangan bagi kesehatan mental, kesehatan jasmani dan kesehatan rohani dari pasangan suami-isteri. Konseling semacam ini dapat memfokuskan sinar yang menyembuhkan dan menumbuhkan pada akar-akar kesehatan dan penyakit kepribadian. dengan demikian, konseling pernikahan merupakan suatu bentuk yang diperlukan untuk pencegahan penyakit mental dan rohani yang pengaruhnya dapat berlanjut ke masa depan.

3.Pelayanan pastoral pernikahan memberikan keterampilan bagi pasangan suami-isteri guna mengatasi persoalan-persoalan dalam pernikahan kelak nanti.

4.Pastoral pernikahan dapat mengubah secara mendalam peranan, hubungan, citra atau identitas dari suami dan isteri. Melalui pastoral pernikahan akan diajarkan serta diberikan keterampilan bagaimana menjalin hubungan kerja yang sederajat dalam hal mana didalamnya melibatkan hubungan komitmen dan kesetiaan.

 

Secara alkitabiah, pelayanan pastoral/penggembalaan pernikahan perlu dilakukan karena hal itulah yang dilakukan dan ditunjukkan Allah dan Yesus Kristus kepada umat manusia dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Allah dan Yesus Kristus digambarkan sebagai gembala yang mencirikan suatu kualitas, karakter dan pekerjaan yang dimiliki dan dikerjakan oleh Allah dan Yesus kepada umat manusia sebagai domba-domba-Nya. Gereja harus melakukan pelayanan ini karena secara alkitabiah inilah salah satu alasan pelayanan gereja (motif menggembalakan), selain karena Tuhan sendiri memerintahkannya (Yoh. 21:15, 16, 18, bnd. Yeh. 34). (Brister: 1992, 33-34).

Pelayanan Pastoral pernikahan bersifat holistik berarti keseluruhan hidup manusia itu berelasi satu dengan yang lainnya, sekaligus bertujuan menyeimbangkan dan meningkatkan seluruh aspek kehidupan yang ada. Menurut Clinebell, dalam BasicTypes of Pastoral Care and Counseling, ada enam aspek (Clinebell: 1984, 31):

1. Merayakan jiwa (mind), termasuk perasaan, pikiran, pengalaman, dan kreasi,

     memperkaya kesadaran, membebaskan kreativitas, mempertajam kesadaran,

memperluas wawasan. Bagian ini menekankan suami-isteri merupakan dua perasaan, pikiran, pengalaman yang berbeda. Karena itu, tiap pasangan perlu berkreasi dalam menghadapi segala persoalan pernikahan. Merayakan perbedaan-perbedaan yang ada dalam pasangan nikah, justru bukanlah modal perpecahan dalam keluarga, melainkan kekuatan untuk membangun pernikahan. Perbedaan dalam masing-masing pasangan bukanlah sumber perpecahan.

2. Merevitalisasi tubuh atau jasmani (body): memampukan untuk mengatasi sikap

egois dan stress. Bagian ini ingin menekankan bahwa untuk mengatasi sikap-sikap semacam itu, dibutuhkan revitalisasi tubuh atau jasmani.

3. Memperbaharui dan memperkaya hubungan intim pasangan. Bagian ini menekankan bahwa hubungan intim bukan saja soal hubungan seks, namun juga patut diperhatikan hubungan-hubungan yang positif yang membangun pernikahan itu.

4. Memperdalam hubungan seseorang dengan alam dan lingkungan: seseorang dapat disebut utuh ketika secara fisik, mental dan spiritual, membangun dan memelihara alam. Bagian menekankan bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang terasing dalam alam maupun lingkungan.

5. Meningkatkan hubungan dengan lembaga-lembaga dalam kehidupan seseorang. Pada bagian ini, terlalu sering didengar bahwa pelayanan pastoral sering terlalu hiper-individualistis. Karena itu, perlu diperhatikan sisi lain dari pribadi yaitu masyarakat. Lembaga-lembaga yang dimaksud adalah keluarga, gereja maupun lembaga adat.

6.   Meningkatkan dan memvitalkan hubungan seseorang dengan Tuhan.

   Tuhan merupakan sumber seluruh kehidupan, sumber segala keutuhan. Bagian

   ini menekankan bahwa patut diakui bahwa segala sumber kehidupan, sumber  

   segala keutuhan adalahTuhan. Meningkatkan dan memvitalkan hubungan

   dengan Tuhan justru semakin mengokohkan pernikahan itu sendiri.

 

Tujuan pelayanan pastoral pernikahan berarti juga menjadikan pelayanan pastoral menjadi efektif. Tujuan holistik dari pelayanan pastoral ini adalah meningkatkan kemampuan berelasi dengan keseluruhan yang ada dalam diri sendiri dan orang lain atau pasangan, untuk meningkatkan hubungan yang mutualistis sekaligus memuaskan. Selain itu juga mempersiapkan suami-isteri dilengkapi agar ketika masalah-masalah dalam keluarga muncul dapat diatasi secara lebih membangun. Pasangan juga diperlengkapi agar mereka dapat meningkatkan hubungan yang bermakna dengan Allah. Pasangan suami-isteri juga dimampukan sekaligus diperlengkapi agar menjadi agen-agen rekonsiliasi secara keseluruhan baik dalam keluarga, komunitas dan gereja.

Kerinduan menciptakan pernikahan bahagia haruslah memerlukan upaya “merajut bersama”, cinta kasih, kesetiaan dan relasi yang baik di antara suami-isteri, terlebih kepada Tuhan, Sang Maha Kasih yang ilahi.

 

1. Cinta Kasih dalam Pernikahan

Kasih digunakan sebagai gambaran sifat Allah dan sebagai paradigma untuk hubungan yang ideal. Kasih adalah sebagai kekuatan yang menyatukan. Panggilan Allah terhadap manusia tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik kalau manusia tidak merasakan kasih Allah dalam hidup mereka, atau mereka akan melaksanakan tanggung jawab itu dengan terpaksa. Pernikahan adalah salah satu anugerah Allah yang besar untuk dapat menghayati kasih itu. Kasih memegang peranan yang begitu penting dalam kehidupan seorang Kristen, baik secara umum maupun secara khusus dalam hubungan suami-isteri (Campell: 1990, 666).

       Berbicara tentang cinta-kasih, kita mengenal kasih agape. Agape berarti cinta yang tidak mementingkan diri sendiri, cinta rohani, cinta persaudaraan, kemurahan hati dan keharuan. Agape merupakan kasih yang berdasarkan pada hormat dan pengetahuan yang dalam akan ketuhanan-Nya termasuk pada perintah-perintah-Nya untuk manusia (Rottschafer: 1999, 706). Abineo menegaskan bahwa cinta agape adalah cinta yang murni. Allah adalah cinta murni, cinta yang dicurahkan (Rm. 5:5). Agape artinya berada untuk orang lain. Penulis kitab-kitab Perjanjian Baru menggunakan kata “agapan” untuk menyatakan bahwa Allah bukanlah Allah yang egois dalam cinta-Nya kepada orang-orang yang hidup bermusuhan dengan Dia. Cinta Allah tidak mencari apa yang menyenangkan, tetapi Ia membuat menjadi menyenangkan. Ia mencurahkan dan membagi-bagikan karunia-Nya tanpa syarat kepada orang-orang berdosa. Agape ialah cinta kepada seseorang yang tidak layak untuk dicintai. Agape ialah kemurahan, belas kasih yang sedalam-dalamnya (Abineno: 1983, 67-68).

          Dalam pernikahan suami-isteri hanya dapat menemukan kebahagiaan dalam pasangannnya kalau ia mau hidup untuk dia. Disinilah letak cinta-kasih (agape) dalam pernikahan. Agape juga berperan dalam hubungan seksual. Agape tidak dapat berfungsi sepenuhnya dalam hubungan suami-isteri kalau dalam hubungan itu sedikitpun tidak terdapat unsur erotic. Kekecewaan, konflik dan kesulitan lain yang merongrong banyak pernikahan sering disebabkan oleh eros yang tidak dipimpin, diatur dan dikekang oleh agape. Hanya cinta agape Allah yang dapat membebaskan kita dari cinta kita yang hanya berpusat pada diri dan kepentingan sendiri, serta mengajar kita untuk mencintai sesama manusia, juga kepada tidak mencintai atau memusuhi kita. Dalam hubungan suami-isteri kita dapat saling mengampuni dan mengandalkan cinta Allah. Dengan pengampunan (mengampuni seorang akan yang lain) pernikahan akan bisa rukun dan bahagia (Abineno: 1983, 71-73).

 

2. Kesetiaan dalam Pernikahan

Richard Foster menuliskan bahwa pernikahan Kristen merupakan perjanjian. Sebuah perjanjian adalah ikrar, sebuah janji kasih dan kesetiaan. Sebuah perjanjian melibatkan kesinambungan dalam pengertian melihat ke masa depan dan menoleh ke belakang kepada sejarah bersama-sama. Sebuah perjanjian berarti keterlibatan, sebuah pengabdian kepada sebuah hubungan kasih dan perhatian yang kaya semakin bertumbuh (Foster, 155-156).

Gagasan pernikahan sebagai suatu covenant relationship (ikat janji) juga didukung oleh pendapat Kartini Kartono yang mengatakan bahwa ikatan laki-laki dan perempuan dalam bentuk relasi suami-isteri itu sebenarnya merupakan ikatan janji kesetiaan cinta-kasih yang diikrarkan dalam janji nikah. Nikah merupakan manisfetasi ikatan janji setia di antara laki-laki dan perempuan yang memberikan batasan-batasan dan pertanggungjawaban tertentu, baik kepada sang suami maupun pada si isteri (Kartini: 1986, 18).

Prinsip fidelitas atau kesetiaan dalam pernikahan berarti tetap berusaha menjaga kesetiaan dan kekudusan pernikahan. Arti kesetiaan dalam pernikahan yang dimaksud sebagaimana ditulis lebih rinci oleh Richard Foster, adalah (a) monogami; (b) sebuah janji seumur hidup untuk mengasihi dan setia; (c) saling merendahkan diri dalam dan takut akan Kristus; (d) pengendalian seksual di luar perjanjian pernikahan; dan (e) kebebasan seksual di dalam janji pernikahan (Foster, 156-162).

         Kesetiaan dalam pernikahan sangat menentukan untuk kebahagiaan dalam rumah tangga. Demikianlah Budyapranata menyimpulkan, bahwa maksud Allah dalam memberikan Hukum Taurat, khususnya hukum ketujuh (jangan engkau berzinah, Ulangan 20:14) adalah untuk melindungi kebahagiaan dan keutuhan keluarga dari hanya pelampiasan hawa nafsu (Budyaprana: 1987, 38). Orang Kristen dewasa ini harus melihat perintah tersebut sebagai suatu “penjaga” atas keberlangsungan ikatan pernikahan (Shelton: 1993, 39).

          Dasar dan teladan kesetiaan kita dalam pernikahan adalah Allah sendiri. Allah sebagaimana yang dinyatakan dalam Alkitab adalah Allah yang setia (I Kor. 1:9; Mzm.145:13). Paulus juga menyebutkan bahwa kesetiaan merupakan salah satu dari buah Roh (Gal.5:22). Oleh sebab itu kesetiaan harus dipertahankan, sebab kita memiliki Allah yang setia dan kita ingin hidup sesuai dengan keteladanan-Nya.

 

3. Membangun Relasi yang Baik

Hidup adalah sebuah relasi. Hubungan yang baik menghasilkan suasana yang baik. Oleh sebab itu, sangat penting dibangun suatu relasi. Dalam pernikahan, masing-masing orang (suami atau isteri) berupaya supaya terbangun relasi yang baik dengan menjalin komunikasi yang baik setiap hari. Dasar dan pusat dari relasi ini adalah Yesus Kristus. Relasi yang baik antara suami-isteri selalu dapat diukur dengan bagaimana suami-isteri terhadap Tuhannya. Dimensi kedekatan relasi ini dapat digambarkan secara sederhana dengan “segi tiga cinta” di bawah ini:

 

                       

              

Diagram “Segi tiga cinta” di atas memperlihatkan bahwa suami dan isteri yang berupaya mendekat kepada Tuhan maka dengan sendirinya relasi mereka pun semakin dekat terhadap satu sama lain. Menambahkan dimensi rohani akan mengubah hubungan pernikahan menjadi ikatan rumah tangga yang kuat. Tanpa kesatuan rohani tidak akan pernah ada keutuhan pemahaman, komunikasi, ataupun seks (Nancy: 2006, 162). Tanpa campur tangan Tuhan dalam “membangun rumah tangga”, maka sia-sialah kita membangunnya (Mzm. 127:1).

 IV. Kesimpulan

 Pada hakikatnya pelayanan pastoral merupakan pelayanan gereja yang mencerminkan pemeliharaan Allah terhadap ciptaan-Nya, khususnya terhadap manusia. Melalui layanan pastoral tercerminlah sikap Allah yang memelihara dan mempedulikan kehidupan manusia. Oleh sebab itu, dengan menyebut pelayanan pastoral pernikahan dan keluarga hal yang mau diperlihatkan adalah bagaimana upaya dan perhatian gereja dalam memelihara dan mempedulikan pernikahan warga jemaat supaya tetap lestari, kokoh dan harmonis.

          Pernikahan yang direncanakan Allah adalah pernikahan yang dilandasi cinta-kasih. Persekutuan cinta kasih ini harus selalu diperjuangkan supaya tetap menjadi suatu pernikahan yang ideal (sesuai dengan rancangan Allah) dan bahagia. Kebahagiaan pernikahan dapat terjadi apabila Kristus hadir sebagai pusat dari relasi pernikahan tersebut. Cinta-kasih, kesetiaan dan relasi yang baik antara suami-isteri terus dibangun dan dipertahankan dalam dan bersama Kristus

  -----------

Daftar Pustaka

 

- Abineno, JL.Ch. Pernikahan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983.

- Brister, C.W. Pastoral Care in The Church. New York: Harper Collins  

Publishers, 1992.

- Campbell, A.V. Love”, dalam Rodney J. Hunter, et.al. (eds.), Dictionary of

Pastoral Care and Counseling. Nashville: Abingdon Press, 1990.

- Clinebell, Howard. Basic Types of Pastoral Care and Counseling. Nashville:

Abingdon Press, 1984.

- Hadisubrata, M.S. Keluarga dalam Dunia Modern. Jakarta: BPK Gunung Mulia,

   2008.

- Patton, John. Pastoral Counseling: A Ministry of The Church . Nashville:

   Abingdon Press, 1983.

- Pelt van Nancy, The Compleat Marriage (terj.) Bandung: Indonesia Publishing

   House, 2006.

- Rottschafer, R.H.Love”, dalam David G. Benner & Peter C. Hill et.al. (eds.),

   Baker Encyclopedia of Psychology & Counseling (Michigan: Baker Book House

   Corp., 1999.

- Soesilo, Vivian.A. Bimbingan Pranikah. Cet. Ke 3. Malang: SAAT, 2001.

- Storm, M.Born. Apakah Penggembalaan Itu? Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet.  

   ke-3, 1982.

 

 

Biografi Penulis

 

Nasib Sembiring, lahir di perladangan Ujung Teran - Langkat 03 Juli 1949. Anak ke-4 dari 5 bersaudara di keluarga Malem Sembiring Brahmana (+ 1953) dan Tera Malem br. Sitepu Pandebesi (+ 2006). Dosen tetap dan Direktur pascasarjana di STT Lintas Budaya Jakarta. Alumnus SMA negeri-IV Medan (1967). Insinyur Teknik Industri (Ir.) dari Fakultas Teknik USU Medan (1976). Karyawan di  PT Socfindo Medan (1975-2005); Head of Enginering PT MAKIN GROUP Jakarta (Jan-Mei 1976). Dosen dan Direktur Pascasarjana STT Lintas Budaya (2012-2016) Master of Business Administration (M.B.A) dari Kennedy Western University Wyoming USA – LMII Medan (2000); Magister Ministri (M.Min) dari STT Jakarta (2008); Master of Arts in Counseling (M.A) dari IFTK Jaffray Jakarta (2010); Master Teologiae (M.Th) dan Doctor of Ministry (D.Min) dari STT Lintas Budaya (2011); Mahasiswa program Doktor Ilmu Psikologi Angkatan ke-IX/2012-2015 di Universitas Persada Indonesia – Y.A.I Jakarta. Mempunyai isteri bernama Tetap br. Sitepu Buahdiken, BA (61 Thn) bebere Bangun dan dikaruniai lima orang puteri; tiga menantu, dan lima orang orang cucu laki-laki.- 

 

 

 

RIWAYAT HIDUP / CURRICULUM VITAE

 N a m a                       : Nasib Sembiring Brahmana.

 Tempat / tgl lahir          : Ujung Teran-Langkat, 03 Juli 1949 merupakan anak ke-4 dari 5 bersaudara    

                                    di keluarga Malem Brahmana (+1953) dan Tera Malem Sitepu (+ 2006).

 Email / Face Book      : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. HP.: +62 812 606 2390.

 Pekerjaan                   : Mengajar, konselor, menulis dan bertani.

 Anggota Gereja          : GBKP Majelis Darussalam – Medan ( PJJ – Jalan Binjai Barat 1A )

                                    GBKP Majelis Jakarta Pusat ( Sektor-5 Pejompongan )

 Tempat Tinggal            : 1. Jalan Titi Papan Gang Rezeki No. 21, Medan - Petisah ( 20119 )

                                   : 2. Apartemen Taman Rasuna, Tower 12 – 17 H

                                         Menteng Atas, Kecamatan Setia Budi - Jakarta Selatan ( 12920 )

                                         Telepon No. (021) - 8378 6373.

 

Pendidikan :

  1. Sekolah Rakyat Negeri No-2 - Tanjung Langkat, Kec. Salapian                     lulus 1961
  2. Sekolah Menengah Pertama Harapan - Tanjung Langkat                                lulus 1964
  3. Sekolah Menengah Atas Negeri – IV - Medan                                               lulus 1968
  4. Fakultas Teknik USU Medan - Jurusan Teknik Industri                                   lulus 1976
  5. Kennedy Western University – Wyoming USA Program - MBA                     lulus 2000
  6. Sekolah Tinggi Teologi Jakarta – Magister Ministri – M.Min                           lulus 2008
  7. Sekolah Tinggi Teologi Jaffray - Jakarta – M.A in Christian Counseling           lulus 2010
  8. Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya – M.Th dan ujian negara                      lulus 2011
  9. Sekolah Tinggi Lintas Budaya – Doctor of Ministry – D.Min                          lulus 2011
  10. Univ. Persada Indonesia YAI Mahs. Doktor Ilmu Psikologi Angk ke-9  2012-2015

 

Pengalaman Bekerja:

  1. 1970 – 1973 Asisten Laboratorium Kimia di Fakultas Teknik USU – Medan.
  2. 1975 – 2005 Pegawai Staf di PT Socfin Indonesia (SOCFINDO) – Medan.
  3. 2006 (Januari – Mei) Head of Engineering Department PT MAKIN Group – Jakarta.
  4. 2012 -  Konselor di Palm Oil Mill swasta di Sumatera dan Kalimantan.

 

Pengabdian di GBKP, Pendidikan dan Masyarakat:

  1. 2004 - 2005 Wakil Ketua Perluasan Areal Retreat Centre GBKP - Suka Makmur.
  2. 2007 -           Direktur Produksi PT JASANIOGA & GBKP – Medan.
  3. 2009 -         Anggota Dewan Penyantun Neumann Development Centre – Medan.
  4. 2008 -          Anggota PT Namo Tiara/ Yayasan GBKP – Medan.
  5. 2009 - 2010   Bendahara Umum, Panitia Sidang Sinode GBKP ke – 34 Suka Makmur. 
  6. 2009 - 2014    Ketua Sie Pastoral Counseling GBKP Majelis Darussalam – Medan.7.  
  7. 2009 - 2013 Bendahara Umum Asosiasi Pastoral Indonesia ( API ) Pusat – Jakarta. 
  8. 2011 -            Bendahara Forum Diskusi Kemah Kaleb Medan. 
  9. 2012-2016     Pengurus Majelis Pusat Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Jakarta.
  10. 2012-2016     Dosen dan Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya

 

Susunan Keluarga:

 

  1. Isteri : Tetap Br. Sitepu, BA   No. Hp. 0811656734.
  2. Anak: 5 orang puteri / 3 orang menantu / 5 orang cucu laki-laki.
    1. Reh Menda Ulina, M.Bus.Sys(Monash University)/ Kushara Kandana, M.Bus – Vic.

-          Ethan Jeremial Parera Ginting

    1. Reh Milna Aprina, B. App.Scs(RMIT)/ Gelora K.P.Gintings, SSTP., M.M – Medan.

 -          Rafael Reguna  Gintings.

 -          Ronan Reginald Gintings.

 -          Reymen Remire Gintings

    1. Reh Diana Pujinta, B.Bus Acct(Swinburne)/ Haniel Julienda Kaban, ST – Jakarta.

-          Damianici Bestanta Kaban.

    1. Reh Dame Meitha Sembiring, MBA International (Daikin University) - Jakarta.
    2. Reh Gia Saberina Sembiring, B.Bus. Marketing (Swinburne University) - Melbourne.

                                                                                                          Jakarta, 30 Mei 2013.-

Share this post

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn

 

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomVision.Com

Kebangkitan Kristus Memberikan Kemenangan

Allah menjadikan manusia dari debu tanah dan juga menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kejadian 2:7). Dalam penciptaan ini, manusia berbeda dengan ciptaan lain. Manusia dijadikan dari dua materi yang…

2201206
Hari ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua Hari
2923
3107
13282
2173661
57965
94929
2201206

Your IP: 54.198.139.30
Server Time: 2014-08-21 23:55:17

Tahun Peningkatan Kuantitas SDM yang Berkualitas 2014

G

B

K

P

Lokasi Moderamen

Webmail GBKP