ALKITAB: SALAH SATU BENTUK DARI KUMPULAN KESAKSIAN TENTANG ALLAH?

I.          Pengantar

            Konfessi GBKP mengenai Alkitab berbunyi: Alkitab adalah salah satu bentuk dari kumpulan kesaksian tentang Allah yang kontekstual yang dituliskan dengan bantuan Roh Kudus, dalam kumpulan tulisan yang dinamakan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pernyataan ini masih menyisakan pertanyan di sebagian kalangan, apalagi konfessi ini dituliskan dalam katekismus (bahan katekisasi) GBKP yang dikhawatirkan dapat merelatifkan kemutlakan Alkitab dalam hidup beriman dan usaha berteologi warga GBKP. Perdebatan ini juga sampai menjadi demikian hangat di Konven Pendeta GBKP Wilayah 2 di PPU Katolik Parapat, 21-23 Oktober yang lalu. Apa maksud dari pernyataan konfessi tersebut, dan bagaimana kita sebagai warga gereja harus menyikapinya? Dalam tulisan berikut penulis berupaya menyampaikan pandangan, kiranya dapat memperkaya upaya kita berteologi atas dasar Alkitab.

 

II.        Alkitab Adalah Salah Satu Bentuk Dari Kumpulan Kesaksian Tentang Allah

Alkitab adalah salah satu bentuk kesaksian tentang Allah. Alkitab tidak memiliki unsur ilahi dan daya magis maka Alkitab tidak untuk dikeramatkan dan disembah sedemikian rupa. Alkitab bukan sebuah buku yang turun dari surga yang ditulis dalam bahasa suci (Ibrani dan Yunani) sehingga tidak bisa diterjemahkan. Alkitab baik PL maupun PB terbentuk melalui proses panjang yang berlangsung belasan abad, berisi banyak bahan dari berbagai periode kehidupan umat percaya dari tradisi Yudaisme dan Kekristenan; dari sekitar tahun 1200 SM sampai tahun 400 M. Alkitab adalah sekumpulan tulisan yang disatukan dari berbagai bahan yang sebelumnya terpisah satu sama lain. Lebih jauh lagi, Alkitab bukan buku ilmu pengetahuan maupun laporan sejarah seperti arti sejarah yang kita pahami di abad modern ini. Alkitab adalah tulisan kesaksian, jadi Alkitab adalah buku iman yang memiliki wibawa dalam persekutuan umat beriman.

            Salah satu bentuk? Apakah ini berarti masih terdapat bentuk-bentuk lain? Ya tentu saja. Allah tidak terikat hanya pada Alkitab, Allah tidak dapat dipenjara di dalam kata-kata atau huruf-huruf mati tulisan kuno. Allah lebih besar dari apa yang dapat dibahasakan manusia tentang Dia. Allah dapat menyatakan diri-Nya melalui apa saja dan kapan saja. Hal ini diakui oleh Alkitab sendiri, misalnya di dalam Mazmur 19, yang sebagian isinya berbunyi: langit menceritakan kemuliaan Allah... Hal ini berarti alam juga merupakan sebentuk kesaksian mengenai Allah. Sehingga tidak berlebihan bila filsuf Jerman, Immanuel Kant berkata, “Bila aku melihat bintang-bintang di atas kepalaku dan hukum moral di dalam hatiku, aku percaya bahwa Allah itu ada.” Sejauh ini konfessi benar dalam pernyataannya.

            Selain kesaksian alamiah (kosmologis) tersebut masihkah terdapat kesaksian dalam bentuk lain berupa kita suci? Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam kitab suci agama lain ada kesaksian mengenai Allah. Di dalam kitab-kitab suci agama lainpun ada kesaksian mengenai Allah yang mengasihi, mengampuni dan menuntut keadilan, walaupun oknum ilahi yang disaksikannya tidak diperkenalkan dengan YHWH, Allah yang diwartakan Alkitab (PL dan PB). Walaupun demikian tidak berarti kitab-kitab suci agama lain tersebut menjadi dasar pengajaran, teologi dan etika GBKP. Mengenai ini juga ditegaskan oleh konfessi, “Oleh karena itu dengan bantuan Roh Kudus, Alkitab haruslah difungsikan sebagai dasar kehidupan Gereja, teologia dan manusia yang menyebut dirinya Kristen.” Maka dari itu GBKP harus siap melakukan dialog dengan agama lain sehingga wajah ilahi yang ramah, rahmani dan rahimi atau welas asih itu dapat diperkenalkan bersama-sama dan menjadi prinsip perjuangan hidup semua pemeluk agama.

            Kesaksian lain tentang Allah juga dapat dilihat dalam ibadah: ritual-liturgis, doa dan nyanyian umat. Semua yang disebutkan di atas ini bertujuan untuk menyaksikan karya Allah kepada dunia, misalnya dengan perayaan natal atau paskah atau juga dengan pelaksanaan perjamuan kudus oleh umat. Dari itu kenapa harus terganggu dengan pernyataan Alkitab adalah salah satu bentuk kesaksian tentang Allah?

            Yang kontekstual? Tidak ada satu bahanpun ditulis lepas dari konteks di mana dia dituliskan. Dalam istilah teknis-biblis dikenal istilah Sitz im Leben dari bahasa Jerman, yaitu sebuah situasi kehidupan tempat lahirnya sebuah bentuk sastra (genre). Harus dimengerti terdapat jarak yang terbentang luas antara masa Alkitab ditulis dengan kita yang hidup pada masa post-modern ini. Perjanjian Lama ditulis di Asia Barat Daya kuno, dengan perangkat bahasa, ilmu pengetahuan dan pandangan dunia orang-orang pada masa tersebut. Maka tidak benar juga bila Alkitab dinilai dengan kacamata ilmu pengetahuan modern yang sangat asing bagi masyarakat pada zaman tersebut. Dalam hal inilah sangat berguna penelitian historis-kritis sekalipun tidak berarti pendekatan inilah satu-satunya pendekatan yang benar dan sahih. Sebagai contoh: adalah suatu yang naif memahami cerita air bah dengan teori terjadinya banjir besar berdasarkan ilmu pengetahuan modern, atau cerita penciptaan dunia melalui teori-teori kosmologi mutakhir. Cerita-cerita itu bukan untuk melaporkan detil peristiwa penciptaan atau banjir besar tetapi berita kesaksiannya (kerygma) ialah Allah yang berkarya dan kasih Allah yang menyelamatkan. Dalam hal ini kita harus setuju dengan pernyataan bahwa terdapat perbedaan (distingsi) antara bahasa religius dengan bahasa ilmu pengetahuan; bahasa agama cenderung bersifat puitik sedangkan bahasa ilmu bersifat prosaik. Memaksakan dalil agama ke wilayah ilmu tidak seharusnya menjadi sikap seorang rohaniwan karena akan melahirkan fundamentalisme yang naif dangkal. Dan memaksakan dalil ilmu pengetahuan ke ranah agama akan melahirkan sikap skeptik radikal atau bahkan menjadi rasional-nihilis. Dengan demikian apakah seseorang dapat menjadi seorang religius sekaligus berilmu? Hal itu sangat mungkin, seorang yang mengintegrasikan iman dan ilmu adalah seorang yang dewasa dan meletakkan kedua bidang itu pada tempatnya masing-masing.

            Yang dituliskan dengan bantuan Roh Kudus? Gereja di semua tempat dan zaman mengakui Alkitab adalah firman Allah. Dalam arti apakah Alkitab tersebut firman Allah? Apakah kata-kata atau rangkaian huruf–huruf tersebut pada diriya sendiri firman Allah? Untuk menjawab masalah ini maka dibutuhkan pendekatan lain yang dikenal sebagai Pendekatan Kanonis seperti yang dipopulerkan oleh Brevard S.Childs. Pendekatan ini melihat bahwa Alkitab adalah kumpulan tulisan yang diakui berwibawa dan terus menerus diwariskan oleh persekutuan umat beriman dari generasi ke generasi. Ketika tulisan-tulisan yang sebelumnya lepas satu sama lain disatukan (dikanonkan), itu berarti tulisan tersebut telah teruji muatan teologisnya dan juga universalitas pemakaiannya di kalangan umat beriman.

            Di dalam dunia penelitian Alkitab, para sarjana masih juga berdebat mengenai kanon dan kanonisasi; terdapat juga banyak ahli yang mengkritik kanon dan kanonisasi. Kita bisa saja tidak setuju dengan kanonisasi, apalagi bila menggunakan tafsir sosio-politis yang berpendapat bahwa ada tarik menarik kekuatan politik dalam pembentukan kanon Alkitab. Namun demikian dalam pandangan penulis, sentralitas kanon dan kanonisasi menjadi sebuah titik penting (decissive point) dalam memahami dan menerima wibawa Alkitab sebagai kita suci. Perlu diingat bahwa tanpa adanya kanonisasi maka tidak ada Alkitab seperti yang kita kenal saat ini, dan tanpa ada sebuah kanon Alkitab maka tulisan-tulisan di Alkitab yang diakui sebagai kesaksian mengenai Allah akan sama nasibnya dengan buku-buku kesaksian lain seperti yang beredar di toko-toko buku saat ini.

Lebih lanjut, perlu diketahui bahwa sebelum kanonisasi begitu banyak kitab yang beredar di kalangan umat, baik yang mengajarkan ajaran sehat maupun yang tidak sehat. Katakanlah injil, di abad-abad awal sejarah gereja tidak hanya empat injil yang dikenal seperti saat ini. Terdapat juga injil yang dinamai sebagai: Injil Thomas, Injil Barnabas, Injil Filipus, Injil Maria Magdalena, Injil Rahasia Menurut Markus atau bahkan Injil Judas yang sangat berbeda isinya dengan keempat injil seperti yang dikenal sekarang.

            Ketika konfessi menyebutkan dengan bantuan Roh Kudus berarti GBKP percaya bahwa tulisan-tulisan tersebut walaupun kelihatannya tidak memiliki muatan rohani atau bahkan sangat sekuler tidak berarti tulisan tersebut tidak memiliki arti dalam karya pewahyuan diri Allah kepada umat. Berbagai bentuk sastra Alkitab (puisi, silsilah, legenda, narasi, amsal dan dsb) menjadi bermakna di bawah terang bimbingan Roh Kudus, yaitu bahwa bentuk-bentuk sastra itu dipakai Allah untuk memperkenalkan diri-Nya, kasih dan tujuan serta tuntutan-Nya kepada umat.

 

III.       Lebih Lanjut Tentang Kanon Dan Studi Kitab Suci

            Dewasa ini (sebagaimana juga dilakukan Marcion pada abad kedua) tidak sedikit orang yang meragukan keabsahan kanon sebagai kitab suci, terutama dari sarjana kritis dan liberal. Dalam lingkaran ini berkembang satu pemahaman bahwa kanon merupakan sebuah “polisi teologis” terhadap berbagai gerakan extra-biblical tradition (atau dalam konteks komunitas Kristen dapat disebut sebagai extra-church). Atau bahkan lebih jauh mereka menuduh kanon adalah sebuah penipuan karena telah menghilangkan naskah-naskah “asli” yang bila dipublikasikan akan meruntuhkan wewenang pejabat agama (rabi atau gereja).

            Dalam bidang keilmuan ada juga sarjana, misalnya Johann Salomo Semler, yang menggugat kanon dalam kerangka pikirnya yang positifistik yang, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan yang sejati tidak seharusnya berdasarkan keputusan-keputusan kanon yang diambil oleh Gereja Kuno. Dalam kebebasan dan kemandirian, ilmu pengetahuan harus dapat menguji kanon itu dan kemungkinan kanon itu mendapat kritik. Dalam pandangan ini tentu saja kanon dilihat sebagai sebuah hasil karya manusia tanpa melihat ada aspek campur tangan ilahi ketika menetapkan kanon. Sama seperti karya sastra yang lain Kanon Alkitab ditempatkan di bawah “mikroskop” ilmu pengetahuan sejarah dan kritik sastra. Terutama dalam kerangka berpikir postmodern saat ini keutamaan kanon dipertanyakan, karena bagi penganut filsafat ini semuanya relatif dan tidak terdapat sebuah kebenaran otoritas mutlak. Kanon hanyalah sebuah contoh “narasi besar” gereja dalam usaha mepertahankan otoritas tunggalnya. Untuk itu, penutupan kanon, bagi mereka adalah sebuah kesalahan.

            Namun sebagai orang percaya kita harus mampu melihat jiwa dari kanon dan ketertutupan kanon itu supaya gejala seperti yang diuraikan Yongky Karman (Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama,Jakarta: BPK, 2007, hal.10) berikut tidak terjadi, dia menulis:

Ketertutupan kanon dapat dibenarkan. Kalau tidak, wahyu ilahi akan terus bertambah tanpa batas dan umat akhirnya menjadi bingung (Klein et al, 1993:65). Seorang tokoh gereja bisa saja mengklaim telah memperoleh wahyu dari Allah dan wahyu itu sejajar dengan Alkitab yang sudah ada. Bila kejadian demikian berulang pada tokoh lain, bisa dibayangkan proses penambahan wahyu tidak pernah selesai. Wahyu yang baru menambah, mengoreksi, atau menganulir wahyu yang lama. Selanjutnya mudah diduga, mengikuti kecenderungan manusia yang mudah tergoda ke dalam pengultusan diri sendiri, masing-masing penerima wahyu masing-masing akan mengklaim kemurnian wahyunya. Dengan kanon tertutup saja sulit dihindari perbedaan tafsiran Alkitab di antara penafsir yang satu dengan yang lain, di antara mazhab Kristen yang satu dengan yang lain, hasilnya adalah banyak denominasi dalam Kristen Protestan. Apalagi bila kanon dibiarkan terbuka, jemaat pasti lebih bingung dan perpecahan di antara umat akan jauh lebih banyak daripada yang sekarang terjadi.

Tafsir kanonis memiliki pandangan bahwa setiap kitab di dalam urutannya memiliki sebuah maksud hermeunetis tertentu dalam bentuk finalnya. Memang dalam prakteknya terdapat pula perbedaan kanon (terutama Perjanjian Lama) antara Gereja Katolik, Ortodoks dan Protestan di mana Gereja Katolik mengenal kitab “deuterokanonika”, yaitu daftar kitab yang terselip antara PL dan PB. Namun di kalangan Protestan kitab-kitab tersebut dinilai sebagai “apokrif”. Menyikapi perbedaan ini pendapat Gerrit Singgih (Kanonisasi Kitab Perjanjian Lama, dalam Forum Biblika edisi April 1992, LAI, Jakarta, 1992, hal. 20-21) ini berikut menjadi pertimbangan kita, dia menulis:

 

Dulu “kanonis” berarti “satu ajaran” atau “satu teologi”. Sekarang “kanonis” lebih banyak berarti “satu iman” tetapi “banyak ajaran”. Tentu orang akan mempertanyakan: kalau begitu pegangan kita apa? Ya, jelas bukan? Yesus Kristus yang diberitakan oleh Alkitab. Karena kita berbicara dalam konteks Perjanjian Lama maka kalau ditanyakan pegangan kita apa? Jawabannya adalah Tuhan, Allah Israel, yang bertindak menciptakan dunia ini, menyelamatkan umat Israel dari penindasan, menjadi sasaran bagi ibadah umat, menjadi pendorong bagi para nabi untuk membongkar ketidakadilan dan menjadi inspirasi bagi kaum berhikmat untuk hidup gijaksana di dunia yang penuh dengan liku-liku ini.

Akhirnya dapat kita tarik satu kesimpulan bahwa kanon sekalipun melibatkan campur tangan manusia, namun dia tetaplah karya Allah, tempat Allah bebricara bagi umat dan menyampaikan kehendakNya. Dan kanon juga menolong kita untuk menghempang relativisasi iman dan teologi, sehingga sekalipun terdapat perbedaan tafsiran kita masih berdiri di tempat yang sama yaitu firman Allah sebagaimana terdapat dalam teks-teks kanonik.

 

IV.       Penutup

            Demikian kiranya tulisan ini dapat memperkaya pemahaman kita bersama sehingga setiap orang, terutama katekis dan katekumen GBKP dapat lebih memahami apa yang diajarkan konfessi GBKP seperti yang tertuang di dalam katekismus kita. Akhir kata, penulis kembali menegaskan bunyi II Timotius 3:16, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dala kebenaran.”

Pdt.Albert Purba, M.Th

(Ketua Klasis Pematang Siantar)

 

Share this post

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomVision.Com

Kebangkitan Kristus Memberikan Kemenangan

Allah menjadikan manusia dari debu tanah dan juga menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kejadian 2:7). Dalam penciptaan ini, manusia berbeda dengan ciptaan lain. Manusia dijadikan dari dua materi yang…

2137633
Hari ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua Hari
433
3705
10575
2107341
89321
84338
2137633

Your IP: 54.82.170.223
Server Time: 2014-07-30 02:56:48

Tahun Peningkatan Kuantitas SDM yang Berkualitas 2014

G

B

K

P

Lokasi Moderamen

Webmail GBKP