Jumat - Sabtu, 25-26 April 2008 dilaksanakan seminar mengenai lingkungan hidup di PPWG GBKP Kabanjahe. Yang menjadi peserta didalam seminar ini adalah PWG utusan Klasis dan utusan Persekutuan Kategorial. Diskusi yang terjadi sangat menarik karena metodenya yang berbeda dan juga mendatangkan tokoh yang sudah tidak asing lagi, yaitu Pak Suli Ginting. Pengalaman Bapak Suli Ginting di dalam menggugat pupuk palsu dan menjaga lingkungan sangat menggugah peserta untuk turut ikut mengambil bagian juga. "Gereja seharusnya menangis apabila mendengar ada orang yang menderita karena bencana alam. Mereka yang menjadi korban adalah saudara kita, dan sudah seharusnya kita merasakan apa yang dirasakan oleh mereka," kata Pak Suli Ginting.
Bapak yang sering demo dan berjuang sendirian ini menuturkan bahwa memang sulit untuk berharap banyak kepada pemerintah daerah. Kita harus berani bertindak supaya suara kita di dengar sampai ke pemerintah tingkat pusat. Kalau pemerintah daerah sudah tidak mendengar teriakan masyarakat kecil, maka kita harus bersama-sama bergandengan tangan melakukan hal-hal kecil yang positif dalam menjaga hutan dan kesuburan tanah. Kalau tanah semakin gersang maka kehidupan petani akan semakin sulit.
Herawati Bangun, juga memaparkan mengenai perusakan hutan yang terjadi di daerah Riau untuk perluasan areal perkebunan sawit. Perluasan arael perkebunan sawit yang sudah menghancurkan ribuan hektar hutan ini dipicu oleh semakin mahalnya harga kelapa sawit di pasar internasional. Siapa yang tidak tertarik dengan uang yang bisa dihasilkan dari usaha kelapa sawit ? Tapi kita perlu melihat sisi negatif yang bisa ditimbulkan oleh sawit sehingga tidak terburu-buru ingin memiliki kebun sawit. Saat ini sedang terjadi perusakan hutan di Riau, besok, lusa sampai tahun depan akan terus berlanjut. Tidakkah kita bisa berbuat apapun sebagai wakil Tuhan didunia ini, sebelum hutan Riau habis digantikan perkebunan kelapa sawit?
Pdt. Agustinus Purba, juga hadir untuk memberikan gambaran hal-hal yang bisa dilakukan oleh Gereja, perpulungen atau pribadi-pribadi dalam memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita untuk menghemat energi. Masyarakat bisa mulai memikirkan sumber daya alternatif dan PARPEM GBKP siap memberikan pelatihan untuk itu. Misalnya pemanfaatan kotoran ternak untuk menghasilkan biogas. Biogas yang dihasilkan ini bisa dimanfaatkan untuk penerangan dan juga memasak. Pembangkit listrik dari sumber-sumber mata air yang ada untuk melayani desa-desa di sekitar sumber air. Penggunaan racun organik yang ramah lingkungan, pupuk organik, dan banyak lagi yang bisa dilakukan oleh masyarakat dan perpulungen.
"Kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan akan lebih mudah muncul apabila mereka mendapatkan manfaat langsung dari lingkungan. Misalnya, desa yang diterangi oleh pembangkit listrik yang dihasilkan oleh mata air di hutan sekitar mereka. Maka otomatis masyarakat akan sadar untuk menjaga hutan mereka. Orang yang datang menebang hutan akan mereka tolak karena mereka sadar apabila pohon ditebang maka mata air akan semakin kecil dan pembangkit listrik tidak akan bekerja serta listrik menerangi desa mereka tidak akan ada lagi. Kesadaran ini membuat masyarakat sekitar hutan menjaga hutan dari penebangan liar," demikian contoh yang diberikan Pdt. Agustinus.
Di penghujung seminar, peserta menuliskan harapan dan keinginannya mengenai apa yang bisa dilakukan berhubungan dengan lingkungan sekitar kita. Apa yang sudah didapatkan mengenai lingkungan hidup dalam seminar ini seharusnya tidak berhenti sampai disitu, tetapi tetap diteruskan kepada semakin banyak orang di tempat kita melayani.
Gereja perlu membuka mata masyarakat bahwa banyak yang bisa kita manfaatkan untuk kehidupan ini yang berasal dari lingkungan sekitar kita. Merusak lingkungan hanya akan mendapatkan keuntungan jangka pendek namun kita mempersiapkan kehancuran jangka panjang. Tuhan memberkati. — (Nomi Sinulingga)
| < Prev | Next > |
|---|








